Posted by: Admin | December 6, 2010

Belajar Bahasa Inggris ≠ Belajar Matematika

Setiap orang memiliki cerita unik dalam mempelajari suatu hal.  Karena proses pembelajaran itu adalah potret belajar kita pada masa lalu yang tidak dapat diulang. Kita hanya bisa mengenang, menilai dan merekayasa agar menjadi nilai positif untuk masa depan. Dulu kita tidak berpikir layaknya sekarang kita berpikir. Kita berpikir umumnya dunia anak-anak. Putra-putri kita pun sama, tidak bisa berpikir seperti kita berpikir, dan kita mungkin baru menyadari hal itu saat ini, ketika kita telah melewati masa-masa itu.

Putra-putri kita yang saat ini masih belajar pun akan berfikir sesuai dunianya, dunia anak-anak. Sehingga dalam memaknai dan menjalani apapun dengan caranya sendiri. Kita tidak berhak memaksakan kehendak kita pada mereka, termasuk dalam mempelajari bahasa asing (baca Inggris) atau bidang-bidang lain seperti Matematika, Komputer atau apa pun. Entah itu dalam hal teknis, proses, atau bahkan hasilnya.

Berkaitan dengan hal itu, mari mencoba berpikir ke belakang. Sudah berapa bulan, tahun atau tingkat, kita telah belajar Bahasa Inggris. Pertanyaannya, seberapaampukah kita dapat bercakap dalam bahasa Inggris  setelah kita belajar bertahun-tahun. Atau (jangan-jangan) malah lebih baik putra-putri kita saat ini? Mungkin saja saat tamat SMA kita merasa tidak ada hal yang dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi. Atau bahkan ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, tidak dijamin bisa melakukan percakapan dengan bahasa target (Inggris).

Itulah (keunikan) bahasa!

Berbeda misalnya dengan belajar Matematika. Apabila sudah dijelaskan tentang materi tertentu, ambil contoh; penjumlahan, pengurangan, persamaan, pertidaksamaan atau deferensial, dan telah memahaminya dan diiringi rajin berlatih maka dengan model soal yang sama akan lebih mudah memecahkannya. Hasilnya pun dapat dinikmati tanpa melibatkan ekspresi komunikatif, misalnya menjelaskan tahapan mengerjakannya, dan lain sebagainya.

Dalam konteks belajar bahasa asing (Inggris) tidak serta merta dapat kita lakukan seperti dalam hal belajar Matematika. Ada hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan di dalamnya. Ambil contoh, tahapan-tahapan pemerolehan bahasa, misalnya ketrampilan berbahasa (language skill) yang diperoleh secara alamiah adalah seperti  saat kita dilahirkan. Diawali dengan menyimak, berbicara, membaca (pemahaman) kemudian menulis. Mereka tidak dapat saling ditukar. Misalnya, anak yang baru lahir langsung menulis, lalu membaca dan seterusnya.

Dari aspek pembelajaran bahasa tampak lebih complicated. Setelah anak mendapatkan kosa kata, biasanya ia akan berpikir tentang cara pengucapannya (artikulasi), paling tidak yang paling mendekati penutur aslinya (native), lalu mencoba memaknainya. Setelah itu, bagaimana merekonstruksinya  menjadi kalimat yang mendekati struktur bahasa guna mengungkapkan ide. Selain itu, bagaimana kalimat-kalimat itu dapat digunakan untuk berkomunikasi dan kemudian merespon ide/ pembicaraan orang secara tiba-tiba, karena  ide orang tidak dapat diperkirakan. Belum lagi kita harus menyesuaikan dengan konteks sosial dan budaya dimana kita berbicara.

Inilah hal penting yang selayaknya kita ketahui sebagai orang yang secara langsung maupun tidak langsung bersentuhan dengan bahasa asing. Oleh karena itu belajar bahasa bukanlah kegiatan belajar yang instant (langsung terlihat hasilnya), tetapi aktifitas yang berkelanjutan, berkesinambungan dan memerlukan habituasi (pembiasaan), sehingga hasilnya dapat diketahui beberapa waktu kedepan.

Tidak mengapa kita menghendaki putra-putri kita yang barangkali sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun belajar/ kursus namun hasilnya belum optimal (sempurna), misalnya bagus nilai sekolahnya dan “mampu ngobrol lagi”. Tentu ini adalah kemauan/ target kita semua. Tetapi fakta kompleksitas system pembelajaran bahasa asing patut menjadi bahan pertimbangan agar selalu berupaya memberi dukungan penuh (menghargai) dan memotivasi mereka agar terus dapat belajar dan membiasakan menggunakannya di mana pun. Syukur-syukur kita dapat berkolaborasi dengan mereka membentuk wahana “English Day” di rumah kita.

Karena belajar bahasa (memang) tidak sama dengan belajar Matematika.

(Mobit) August 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: