Posted by: Admin | January 15, 2011

Belajar dari Pare Kediri

 

Gerbang ke desa Tulung Rejo
Gerbang ke desa Tulung Rejo

Pare, adalah kecamatan dimana   desa Tulung Rejo  bernaung. Di sana telah terbentuk secara natural “perkampungan Bahasa Inggris”, yang telah menjadi inspirasi beberapa masyarakat di Indonesia. Natural, karena ia berkembang secara alami membentuk satu kawasan kursus bahasa Inggris.

Aktifitas bahasa Inggris (conversation, debate, presentation, discussion, etc), tidak hanya di ruang kelas tetapi di jalan-jalan, di warung-warung makan, atau kafe-kafe. Pembelajar dengan secara alami membentuk dan menciptakannya situasi yang mendukung aktifitas komunikasi. Semangat para pembelajar dan instruktur dalam menguasai bahasa Inggris sangat tinggi. Mereka datang jauh-jauh ke Pare khususnya dusun Tulung Rejo, hanya untuk membangun kompetensi berbahasa Inggris yang pernah mereka pelajari.

Proses belajar yang diterapkan di sana, tidak disituasikan pada pembelajaran yang berfasilitas mewah. Fasilitas yang ada sangat sederhana. Tidak ada komputer yang mengendalikan pembelajaran,  atau  laboraturium bahasa. Banyak lembaga kursus di sana yang belajarnya hanya  beralas lantai, tanpa karpet atau tikar sama sekali. Oleh karena itu, biaya belajar tidak begitu tinggi dan -sangat terjangkau. Sehingga masyarakat dari banyak lapisan datang berbondong-bondong datang ke sana.

Namun demikian semangat belajar para siswa di sana sangat tinggi. Mereka tidur hanya beralas kasur sederhana bahkan lantai. Tetapi, keadaan seperti tersebut di atas tidak menjadikan mereka minder, malu dan enggan.

Mereka banyak melakukan aktifitas berbahasa Inggris di penginapan dan dikelas. Dalam setiap aktifitas luar pun banyak ditemui menggunakan bahasa Inggris. Saling menyapa antar siswa kursus lain, juga menggunakan bahasa Inggris. Jadi mereka benar-benar harus membuang perasaan yang selama ini mereka rasakan, seperti: takut salah, malu dan perasaan lain yang dirasakan oleh pembelajar bahasa asing lain.

Kita sebagai orang tua, guru, atau siswa dapat mengambil beberapa tren yang terjadi di Pare ini. Karena, sejatinya, kompetensi Bahasa Inggris secara riil dapat dilihat dari kemampuan berbicara secara umum, bukan hanya pada nilai di atas kertas.. Kompetensi, baik tata bahasa , diskursus , sosiolinguistik,  strategi  tidak dapat dipisahkan. Mereka bersatu untuk menghasilkan kemampuan berkomunikasi secara sempurna. Kesenjangan yang terjadi di beberapa tempat pendidikan formal (sekolah) lebih didominasi oleh kurangnya perhatian pada sisi latihan karena ketersediaan waktu dan cepat dan luasnya target kurikulum. Hal ini tentu akan mereduksi kesempatan untuk mengeksploitasi bahasa di lingkungan sekolah atau kelas.

Mungkin beberapa hal yang diterapkan di Pare perlu diadopsi oleh beberapa sekolah demi meningkatkan kompetensi wicara siswa. Bukan hanya sekolah, baik SD, SMP, SMK/ SMA tetapi juga beberapa tempat kursus bahasa inggris lain yang belum dapat menciptakan lulusan-lulusan yang handal.

Orang tua juga harus berperan aktif dalam  condisioning putra-putrinya terutama di rumah dan lingkungannya. Sebagai orang tua kita bisa menciptakan lingkungan yang kondusif di tempat tinggal  dan lingkungan kita. Mungkin beberapa hal berikut dapat dijadikan alternatif dalam membangun kompetensi komunikasi Bahasa Inggris putra-putrinya.

Anggaplah bahwa bahasa Inggris itu penting, sehingga kita semua memerlukannya. Bukan hanya bahasa asing  tetapi bahasa kedua atau ketiga. Ciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kita semua, termasuk anak-anak kita terbiasa membaca, menulis, mendengar, atau melihat aktifitas berbahasa inggris. Buatlah skema-skema bahasa, baik pola mengingat, bentuk-bentuk ekspresi dan ungkapan, kosa kata, yang terkorelasi dengan kebutuhan komunikasi.  Libatkan diri kita sebagai orang tua, latih terus dan bergabunglah dengan les-les Bahasa Inggris. Carilah tempat les yang dekat dari rumah dan harga terjangkau, karena keberlanjutan belajar bahasa itu harus tetap terjaga terus. Tempat kursus yang mahal tetapi tidak konsisten hanya sebagai pengingat (reminder) hasil proses belajar. Tempat kursus yang diajar oleh pengajar asing (native)  itu belum mendesak, karena selain biayanya mahal kemampuan anak-anak kita mungkin belum siap menerima itu.

Sekali lagi, keberlanjutan proses belajar harus tetap diperhatikan dan terjaga. Oleh karena itu cara menjaga ritme belajar di tempat yang dekat dengan tempat tinggal akan membantu menjaga kondisi fisik putra-putri kita untuk selalu membangun keaktifan mengontrol komunikasi. Sehingga kita  membangun kompetensi komunikasi orang-orang tercinta kita dengan menghadirkan Pare-Pare ke rumah kita.  Selamat mencoba..

 

Written by Mobit

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: