Posted by: Admin | February 23, 2011

Bimbel, Riak Pendidikan Indonesia?

Bimbel (Bimbingan Belajar) adalah lembaga pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa terkait dengan  pelajaran sekolah yang dilaksanakan  di luar sekolah yang lebih diarahkan untuk pemecahan soal-soal mata pelajaran yang diujikan di dalam Ujian Nasional. Penyelenggara bimbel bisa oleh kalangan luar sekolah atau guru-guru sekolah yang dilibatkan dan atau bekerja sama untuk mengadakan bimbingan pelajaran yang terpisah dengan kegiatan sekolah.

Bimbingan belajar berbeda dengan pengayaan atau les yang diselenggarakan oleh pihak sekolah yang memiliki tujuan terintegrasi dengan tujuan pembelajaran di sekolah. Bimbel lebih bertujuan komersial dengan menjual produk-produk sekolah dengan membebankan biaya kepada siswanya secara bervariasi. Ia menjadi sesuatu yang menjadi pilihan, bahkan terkadang mengalahkan semangat dari sekolah itu sendiri. Seakan posisi bimbel tidak lebih tidak penting dari proses pembelajaran di sekolah. Ia juga sebagai dinding tinggi oleh anggota masyarakat yang tidak mampu mengenyamnya.

Banyak orang tua yang terbuai dengan hal yang ditawarkan oleh bimbingan belajar. Bimbel bukan barang yang murah, sehingga ada beberapa orang tua begitu bersemangat  mensikapi beban UN hingga menganggap bahwa bimbel adalah sekolah tambahan bagi anaknya. Mereka berpendapat bahwa bimbel lebih baik dari sekolah itu sendiri. Begitu naif, memang.

Oleh karena itu, pemilik bimbel begitu revolusioner membangun proyek bisnisnya. Ada bimbel yang mengobral konsep usaha waralaba dengan modal awal hingga setengah milyar. Mereka berpikir bahwa namanya usaha, harus dapat menghasilkan benefit yang lebih dari yang dikucurkannya. Mereka tentunya akan mematok harga yang juga luar biasa. Ratusan ribu bahkan jutaan yang harus dibayarkan oleh para orang tua siswa untuk menikmati pendidikan instan ini. Pola ini, diperindah oleh iming-iming dapat lolos ke perguruan tinggi negri favorit. Dengan membangun logika semacam ini, orang tua tanpa berpikir panjang akan membayarnya.

Bagian masyarakat tentunya sudah mafhum, bahwa mereka yang lolos ke perguruan tinggi favorit adalah orang-orang yang memang secara kognitif mampu memasukinya. Sehingga walaupun ada garansi uang kembali jika tidak lolos, hal ini jarang terjadi.

Para pengambil kebijakan di negeri ini serta pada pendidik sejati sudah seharusnya mensikapi menjamurnya bimbel yang akhir-akhir ini sudah luar biasa. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh mereka dalam konteks membentuk manusia Indonesia yang berkarakter.

1. Pendidikan itu bukanlah perkara yang instan. Konsep berpikir bisa lolos ujian tentu harus direvisi. Banyak efek domino ketika konsep ini terus dikembangkan. Hal ini tentunya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang konsep-konsep pragmatisme dalam bidang pendidikan. Proses menjadi tidak penting, karena semuanya bisa ditempuh dengan menggunakan metode short cut.

2. Terus berkembangnya bimbingan belajar, tidak sejalan dengan konsep pendidikan dasar 9 tahun. Bimbel hanya menjadi riak-riak pendidikan, karena beberapa dekade terakhir malah mereduksi fungsi sekolah sendiri. Kalau memang itu, konsep pendidikan sembilan tahun harus dibekukan. Karena proses pendidikan itu tidak penting, yang penting adalah siswa mampu memecahkan masalah denga cara yang sederhana.

3. Bimbel hanya membuat kesenjangan pendidikan semakin lebar. Konsep itu hanya mendesain bahwa pendidikan itu hanya dinikmati oleh anggota masyarakat yang berkantong tebal saja. Karena untuk lulus ujian harus membayar dengan amat mahal. Anggota masyarakat yang berada di desa-desa terpencil dengan fasilitas yang terbatas dipastikan tidak pernah mendapatkannya.

4. Bimbel hanya mengurangi peran guru di sekolah. Konsep-konsep pengajaran disekolah tidak dianggap mutakhir dibandingkan konsep pengajaran di lembaga bimbel. Sehingga terkesan sekolah hanya upaya untuk menggugurkan kewajiban dalam proses pendidikan yang lebih besar. Terlebih guru-guru sekolah sudah mendapatkan sertifikat profesi yang dimaksudkan untuk optimalisasi pendidikan Indonesia. Sebagai konsekensi dari profesi yang disandangnya, guru mendapatkan tunjangan yang mencukupi.

5. Bila guru sekolah terlibat dalam proses pengajaran di bimbel lebih parah. Perjalanan materi sekolah akan dinomorduakan karena hal itu sudah menjadi hal yang biasa. Guru dengan inisiatif membuat bimbel di rumah akan lebih menganut diskriminatif dalam proses asesmen siswanya. Siswa yang mengikuti belajar di rumah gurunya lebih berpotensi mendapatkan nilai yang lebih baik dari pada siswa yang tidak bergabung. Hal ini wajar karena guru memiliki konsekuensi memberikan yang terbaik bagi siswa yang berpartisipasi, karena siswa membayar. Sehingga hal ini sering menjadi kecemburuan bagi siswa yang tidak bergabung dalam bimbingan belajar, walau secara kompetensi mungkin lebih baik.

Pendidikan di negeri ini sudah seharusnya terus dibenahi. Karena banyak kebijakan yang dinikmati oleh masyarakat hanyalah sebatas melaksanakan kepentingan politik penguasa saja. Kebijakan yang dijalankan lebih tidak memihak ke masyarakat sebagai pemilik utama negri ini.  Tentunya seandainya pihak-pihak yang peduli terhadap pembangunan pendidikan di negeri ini, sudah seharusnya memikirkan pendidikan masyarakatnya bukan dalam perspektif apa yang diperlukan penguasa, tetapi bagaimana karakter masyarakat Indonesia dapat terbangun secara merata demi karakter bangsa, bukan karakter penguasa.

Demikian juga dalam hal konsep-konsep praktek pendidikan, termasuk didalamnya kebijakan dalam penyelenggaraan bimbingan belajar yang hanya berorientasi pada membisniskan pendidikan demi kepentingan pihak-pihak tertentu dan jangka pendek, bagaimana lulus ujian.

Ditulis oleh: Mobit (Mahasiswa Paskasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: