Posted by: Admin | June 13, 2011

Sekolah unggul itu seperti apa?

Ditulis oleh:

Mobit

Mahasiswa Paskasarjana UHAMKA Jakarta

 

Pada saat-saat seperti ini, konsentrasi para orang tua tertuju pada lingkaran pendidikan, utamanya sekolah. Setelah anak-anak menghadapi evaluasi sekolah, mereka yang berada di kelas-kelas akhir pasti akan bersiap-siap untuk melangkah kemudian melompat kepada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, untuk mereka yang berada di kelas-kelas awal dan menengah harus menyiapkan untuk ke kelas-kelas berikutnya.

Tentunya untuk mereka yang berada di kelas-kelas akhir, baik orang tua atau siswa harus berpikir keras untuk masuk ke jenjang berikutnya. Adik-adik yang menjadi siswa di sekolah dasar harus memilih sekolah lanjutan pertama yang menjadi idamannya. Begitu pun siswa kelas 3 sekolah lanjutan pertama, akan berjuang untuk mendapatkan sekolah lanjutan atas yang mereka impikan. Juga untuk para siswa yang duduk dikelas 3 SMA.

Sering terdengar mereka mencari sekolah-sekolah favorit. Sekolah-sekolah seperti apa yang favorit itu. Apakah sekolah favorite itu yang mahal, gedungnya bagus, keluaran siswanya yang bagus, gurunya yang bagus, atau mungkin karena kultur dan systemnya yang bagus. Kita semua mungkin memiliki pendapat yang berbeda-beda, untuk menggambarkan sekolah yang bagus. Pandangan yang didasari oleh seberapa jauhkan kita memahami dunia pendidikan dan segala hal yang terkai dengannya.

Tulisan ini mungkin akan dapat sekedar membantu, sekolah yang bagus itu seperti apa. Apa sebetulnya indicator bahwa kita bisa mengatakan bahwa sekolah itu bagus.

Dalam dunia pendidikan kita mengenal kata-kata masukan (input), process pendidikan itu sendiri (process) dan keluaran atau siswa-siswa yang selesai menempuh pendidikan di sebuah lembaga pendidikan (output). Ketiganya tidak dapat saling dipisahkan, karena mereka saling berhubungan baik fungsi atau sebab akibat.

Siswa yang akan mengikuti pendidikan di sekolah sangat bervariasi. Di antara mereka ada yang berpikir secara terbelakang, ada yang biasa-biasa, ada yang pandai dan mungkin jenius. Dasar yang dimiliki siswa, akan sangat perpengaruh pada proses selanjutnya. Mereka yang memiliki kemampuan kognitif yang di bawah dipastikan memerlukan perlakuan yang luar biasa dari pada mereka yang di atasnya. Sebaliknya mereka yang sudah berbekal jenius, akan berpikir dan bertindak berbeda. Dan dapat dipastikan, perlakuan oleh sekolah (guru) pun berbeda juga.

Selanjutnya, sekolah adalah lembaga yang bertugas ‘memanipulasi’ siswa menjadi lebih baik. Ibaratnya sekolah adalah pematung yang akan membuat bongkahan batu atau kayu yang tak bernilai seni, menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi. Dengan demikian, sekolah dengan segala keorganisasiannya dan fasilitasnya memiliki tugas mulia untuk merubah masukan (siswa) menjadi manusia yang sempurna. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, baik kepala sekolah, guru, karyawan, atau pemangku lain harus bersinergi untuk menciptakan karya seni (siswa) yang bernilai tinggi (berkualitas).

Yang ketiga adalah keluaran (output). Ia adalah hasil olahan dari masukan (siswa) dengan disentuh oleh perlakuan sekolah dengan berbagai metode, system dan fasilitas, juga dengan kesabaran dan keunggulan sumber daya manusianya, siswa menjadi seseorang yang diidam-idamkan baik oleh siswa, orang tua, atau pun sekolah itu sendiri.

Pada beberapa tahun terakhir ini ada pengkelasan sekolah-sekolah yang ada. Ada sekolah berstandar nasinonal, sekolah rintisan berstandar internasional, sekolah berstandar internasional, atau mungkin sekolah inklusi. Menurut penulis pengkelasan-pengkelasan itu malah membingungkan masyarakat. Sehingga banyak anggota masyarakat yang tidak mengerti seluk beluk dunia pendidikan malah terjerumus oleh pengertian-pengertian itu.

Menurut penulis, sekolah yang berkualitas itu bukanlah sekolah-sekolah yang mahal. Pun bukan sekolah-sekolah yang memilih-milih siswa hanya mereka yang memang sudah pintar. Juga bukan sekolah-sekolah ekslusif, yang untuk masuk memerlukan dana yang luar biasa.

Sekolah-sekolah yang telah menerima masukan (siswa) yang bagus, dan kualitas keluarannya bagus itu sangat wajar, dan memang harus demikian adanya. Keluhan-keluhan siswa atau anggota masyarakat yang bersekolah di sekolah jenis ini banyak yang menyoroti cara guru mengajar. Sehingga dengan demikian, sekolah seperti ini belum dapat dikatakan sekolah yang bagus. Karena ibarat pematung, guru hanya tinggal mencuci hasil karya yang sudah sempurna. Hanya saja patung itu tertutup oleh debu atau berwarna kusam, sehingga pematung hanya mencuci dan mengecat kembali.

Berbeda dengan sekolah yang mendapatkan siswa-siswa yang pas-pasan. Guru-guru dan sekolah harus bekerja keras bagaimana untuk mengembangkan siswa yang ada, atau mungkin dengan berbagai keterbatasan, menjadi siswa yang hebat dan berkarakter. Sekolah tentunya memerlukan energi lebih banyak dari jenis sekolah sebelumnya. Inilah sebetulnya sekolah yang berkualitas. Ibarat pematung, seniman ini mengolah kayu atau batu yang berbentuk tidak karuan menjadi patung indah dan bernilai seni tinggi.

Untuk membuktikan bahwa sekolah itu adalah sekolah unggulan dan berkualitas, carilah siswa dengan tidak memilih dan memilah. Malah mungkin carilah hanya siswa yang berkekurangan secara kognitif, kemudian perlakukan mereka, olah mereka sampai menjadi siswa-siswa hebat dan berkualitas. Seandainya ada sekolah yang seperti ini, kita semua angkat topi. Karena itulah sekolah yang hebat, berkualitas, unggulan dan berkarakter.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: